Memburu Makna Agama –Wilfred Cantwell Smith

By chikitadinda - 16.02

Materi kali ini saya ditugaskan merespon pemikiran dari Smith yang ia curahkan dalam bukunya “The Meaning and End of Religion” atau yang diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia adalah Memburu Makna Agama.

Dalam bukunya, Smith mengatakan bahwa istilah agama/religi sulit didefinisikan. Keinginan Smith untuk melakukan definisi ulang terhadap istilah ‘agama’ juga tidak terlepas dari beban sejarah dan pisikologi yang harus ia tanggung sebagai bagian dari peradaban Barat. Smith benar bahwa sampai sekarang tidak ada satu definisi tunggal mengenai ‘agama’ yang dapat di jadikan rujukan dalam tradisi intelektual Barat.

Prof Al-Atas dalam buku Islam dan Sekularisme mengkritik makna Religion (Perancis Kuno), religio (Latin), Religioun (Inggris), secara samar-samar merujuk kepada “ikatan manusia dengan Tuhan-Tuhan”. Religi tidak banyak memberikan penjelasan tentang makna agama sebagai aspek nyata dan mendasar dalam kehidupan manusia. Konsep ‘ikatan’ antara manusia dan Tuhan tidak jelas, menjadi kabur, dan membingungkan jika diterapkan pada Tuhan Semesta Alam yang sejati. Kesepakatan umum dikalangan manusia bahwa konsep agama berkaitan dengan suatu ikatan, tetapi hal ini tidak diterangkan secara jelas dalam agama-agama lain, dan tidak ada kitab yang diwahyukan bagi Ahlul Bait yang menyebut tentang perjanjian yang mendasar dan asal anatara manusia dengan Tuhannya.



Konsep yang terkandung dalam istilah din, sesungguhnya tidak sama dengan konsep agama yang dipahami dan ditafsirkan dalam konteks sejarah keagamaan di Barat seperti yang diungkapkan Smith. Prof Al-Atas menegaskan bahwa hanya Islam saja yang benar-benar agama tanzil, bukan agama hasil perkembangan sejarah, dengan kata lain Islam bukan agama budaya. Beliau juga menegaskan bahwa kata kunci yang sangat penting bagi memahami Islam bukan hanya berserah diri, tetapi kepatuhan yang benar yang terekam dalam perkataan din. Berserah diri kepada Tuhan tidak cukup jika tidak diikuti dengan kepada Tuhan yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya. Dalam Islam-lah makna yang terangkum dalam din menjelma menjadi din atau agama. Bertentangan dengan apa yang diutarakan Smith, Al-Atas menegaskan bahwa agama Islam telah sempurna sejak dari awal dan tidak berkembang seperti agama lain.

Bagi Smith agama tidak lain adalah tumpukan tradisi (cumulative tradition). Perkataan religion sendiri menurutnya adalah hasil perdebatan identitas politik (politik pengenalan diri) oleh karenanya agama adalah istilah yang baru yang dicipta oleh bangsa Eropa pada zaman modern. Dia juga menegaskan bahwa agama adalah sesuatu yang memiliki banyak bentuk, senantiasa berkembang, dan mengalami proses perubahan berkembang. Dalam bukunya Faith and Belief , Smith menegaskan bahwa semua agama adalah hasil pembentukan konteks sejarah dan budaya yang berlainan, masing-masing boleh meyakininya sebagai asli akan tetapi ia adalah kefahaman tentang Tuhan yang tidak sempurna.

Pernyataan Smith diatas menyamakan antara agama dan budaya. Padahal sejatinya budaya berbeda dengan agama. Budaya sebagai keseluruhan tindakan manusia dan hasil kelakuan manusia yang teratur oleh tata kelakuan, didapat dengan belajar tersusun dalam kehidupan masyarakat, sedangkan agama adalah wahyu dari Tuhan.

Puncak spirual seseorang menurut Smith adalah tindakan personal. Kata agama, konsep-konsep agama, makna agama harus dibuang kecuali makna personalitas. Istilah agama dianggap membingungkan dan menghambat kemajuan pemahaman untuk mengakui keberagaman berbagai agama bukan hanya agama yang dianut.

Kebingungan Smith terhadap istilah religi yang beragam tanpa ada satu kesepakatan menolak istilah tersebut dan membuangnya dari kamus bahasa. Agama-agama yang ada akan diganti dengan tindakan personal, keimanan seseorang yang bukan berdasarkan pada salah satu agama akan tetapi menuju pengakuan keberagaman iman personal dan semua itu benar.

Smith dengan konsep-konsepnya berupaya menyamakan persamaan iman Islam dan ‘iman’ personalitas. Keduanya memiliki latar belakang yang berbeda dan pemakanaan yang berbeda pula. Smith mengartikan iman dengan sesuatu yang tidak dapat didefinisikan, urusan personal, dan terlalu Ilahi untuk diterjemahkan kepada orang banyak.

Selain itu Smith juga menyamakan iman Islam dan iman Kristian-Yahudi berdasarkan kefahaman ini orang Kristian dan Yahudi juga muslim karena telah berserah diri dengan beriman kepada Allah. Smith berpandangan ketiga agama ini pada dasarnya mempercayai Tuhan yang sama, maka kesemuanya adalah orang muslim.

Menurut saya, konsep iman Islam dan iman Kristian-Yahudi tidak dapat disamakan walaupun keduanya memiliki arti sama yaitu percaya. Iman menurut Islam adalah dalam arti khusus arkanul iman, rukun iman yang enam. Iman kepada Allah, Malaikat, Kitab-kitab Allah, Rosul, Hari akhir dan Qoda’ dan Qodar. Iman kepada Allah antara Islam dan Kristian –Yahudi berbeda, Islam hanya menyembah kepada satu Tuhan yang jelas namanya, kedudukan-Nya, kekuasaan-Nya, tidak beranak dan diperanakan. Sedangkan Kristian mengenal konsep Trinitas, ada Tuhan Bapak, Roh Kudus, dan Yesus, sedangkan Yahudi mengenal Tuhannya dengan YHWH. Dari konsep Tuhan saja terdapat perbedaan yang mencolok, jadi konsep semua orang yang ‘beriman’ adalah muslim tidaklah tepat. Muslim hanya khusus untuk umat yang beriman sesuai ajaran agama Islam.



---
Sumber:
Al-Atas. Islam dan Sekularisme. Bandung: PIMPIN, 2011.
Hamka. Tafsir Al-Azar jilid 1. Jakarta: Gema Insani Press, 2015.
Muammar, Khalif. Islam dan Pluralisme Agama. Malaysia: Centre for Advanced Studies on Islam, Science dan Civilisasion, 2003.
Smith, Wilfred Cantwell. Memburu Makna Agama. Bandung: Mizan, 2004.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar