Materi 10: Radikalisme dalam Agama

By chikitadinda - 12.54

Sejarah kekerasan dan radikalisme dalam semua agama senantiasa menghadirkan nama Tuhan. Hal ini dapat dipahami karena kekuatan ide “atas nama Tuhan” ini sangat dahsyat. Kekuatan ini bisa melebihi semua klaim otoritas politik yang ada. Ini mengingat ideologi agama bisa diangkat sampai pada tingkat supranatural. “Atas nama Tuhan” bisa digunakan sebagai spirit radikalisme bahkan justifikasi dari segala tindakan manusia.

Ekspresi radikalisme beragama memang dirasakan sangat mengerikan. Mulai dari mengkafirkan orang-orang yang tak sepaham, sampai menyerang orang-orang di tempat-tempat hiburan, membunuh para dokter dan perawat dalam klinik aborsi, tak segan- segan menyerang dan membunuh musuh yang tak seideologi. Bahkan menggulingkan dan membunuh presiden sekalipun “demi” agama. Demikianlah tulisan Karen Amstrong dalam bukunya “Berperang Demi Tuhan, Fundamentalisme dalam Islam, Kristen dan Yahudi.”



Termasuk Islam, yang sejatinya dari awal sejarah, memposisikan dirinya sebagai ummatan wasatan (umat yang moderat) dan sarat dengan nilai-nilai kedamaian serta gerakan moral dengan jargon advokasi kaum lemah. Sayangnya, nilai-nilai yang sedemikian ideal telah tereduksi oleh “oknum” yang memonopoli tafsir agama. Akibatnya agama dijadikan “justifikasi” atas tindakan kekerasan dan radikalisme. Agama telah “dipenjara” dan dieksploitasi sesuai dengan tendensi ideologis mereka. Alhasil, yang mencuat ke permukaan adalah truth claim (klaim kebenaran) dengan indikasi memunculkan sikap reaksioner-destruktif atas segala perbedaan (ikhtilaf). Tak terkecuali di Indonesia, yang dikenal sebagai bangsa religius, santun dan ramah, praktek-praktek kekerasan atas nama agama kerap terjadi.

Banyak faktor yang menyebabkan tumbuh dan berkembangnya gerakan radikal yang mengatasnamakan agama. Salah satunya, menurut Fealy dan Hooker, adalah akibat terbukanya kran demokratisasi pasca reformasi. Sementara itu, menurut Huntington, sumber konflik yang dominan saat ini bukan bersifat kultural, bukan ideologis, ataupun ekonomis. Konflik akan terjadi antara negara dan kelompok yang memiliki peradaban yang berbeda. Huntington mendefinisikan peradaban sebagai entitas kultural tertinggi dan identitas terbesar yang dimiliki manusia. Lebih jauh, ia juga mengidentifikasi tujuh peradaban besar, yaitu Barat, Konfusius, Jepang, Islam, Hindu, Slavia-Ortodoks, dan Amerika Latin. Menurutnya, dari ketujuh peradaban besar itu, Islamlah yang paling potensial untuk mengancam peradaban Barat yang kini sedang berada di puncak kekuasaannya.

Walaupun faktor-faktor munculnya radikalisme beragama sangat kompleks dan beragam, namun sebagaimana diungkapkan oleh John L. Esposito bahwa peperangan dan kekerasan dalam agama selalu bermula dari faktor keimananan manusia. Menurut Yusuf al-Qaradhawi, faktor utama munculnya radikalisme dalam beragama adalah kurangnya pemahaman yang benar dan mendalam atas esensi ajaran agama Islam itu sendiri dan pemahaman literalistik atas teks-teks agama. Menurut Arkoun, al-Qur’an telah digunakan muslim untuk mengabsahkan perilaku, menjustifikasi tindakan peperangan, melandasi berbagai apresiasi, memelihara berbagai harapan, dan memperkukuh identitas kolektif.

Pada kenyataannya, sebagian muslim yang melakukan tindakan kekerasan sering kali merujuk pada ayat al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad saw. yang dijadikan legitimasi dan dasar tindakannya. Padahal, Islam adalah agama universal dan moderat (wasatiyah) yang mengajarkan nilai-nilai toleransi (tasamuh) yang menjadi salah satu ajaran inti Islam yang sejajar dengan ajaran lain, seperti keadilan (‘adl), kasih sayang (rahmat), dan kebijaksanaan (hikmah). Sebagai rahmat bagi semesta alam, al-Qur’an mengakui kemajemukan keyakinan dan keberagamaan. Tetapi, sayang aksi dan tindakan kekerasan masih juga sering kali terjadi. Dan, sekali lagi, itu diabsahkan dengan dalil ayat-ayat al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad saw.


---

Sumber:

al-Qaradhawi, Yusuf. as Sahwah al-Islamiyyah bayna al-Juhud wa at-Tatarruf, cet. ke-1. Kairo: Darasy-Syuruq, 2001.
Arkoun, Mohammed. Berbagai Pembacaan al-Qur’an, terj. Machasin. Jakarta: INIS, 1997.
Esposito, John L. Unholy War: Teror atas Nama Islam. Yogyakarta: Ikon, 2003.
Fealy, Greg dan Virginia Hooker (ed.). Voices of Islam in Southeast Asia: a Contemporary Sourcebook. Singapore: ISEAS, 2006.
Huntington, Samuel P. “Benturan Peradaban, Masa Depan Politik Dunia”, dalam Ulumul Qur’an: Jurnal Ilmu dan Kebudayaan. Jakarta: Lembaga Studi Agama dan Filsafat [LSAF], 1993), Vol. 4, No. 5, hlm. 11-25

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar