Matrikulasi #9 Misi #7: Menyelam Palung Laut 2

By chikitadinda - 12.30

Tulisan kali ini adalah misi ketujuh dari kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional batch #9 yang saya ikuti. 

Mungkin bahasannya akan spesifik digunakan dalam komunitas Ibu Profesional, tetapi menurut saya semuanya baik untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, dalam kelompok pertemanan yang kita ikuti, serta berkomunitas dan bermasyarakat di dunia nyata ataupun dunia maya. Semoga bermanfaat~

Misi 7: Menyelam Palung Laut 2 (Karakter Ibu Profesional)

Setelah pada misi sebelumnya saya sudah mencari makna ibu profesional kebaggaan keluarga versi masing-masing, kali ini saya diajak untuk menyelam lebih dalam ke palung laut untuk menguatkan misi hidup agar dapat tercapai karakter ibu profesional.



Sekilas saya akan sedikit menyinggung pembahasan dalam live bersama SahabatWI hari Senin kemarin, Mba Farida menjelaskan karakter. Karakter sendiri memiliki arti sesuatu yang dimiliki sejak lahir, sebagai penanda, dan bisa berubah.

Terdapat 3 komponen dari karakter, yaitu:

1. Moral Knowing (Pengetahuan Moral)
Moral knowing akan lebih mengisi pada ranah kognitif individu, yang memiliki aspek yaitu:
  • Kesadaran Moral (moral awareness): Aspek dalam kesadaran moral ini pertama, menggunakan pemikirannya untuk melihat suatu situasi yang memerlukan penilaian moral. Sehingga kemudian dapat memikirkan dengan cermat tentang apa yang dimaksud dengan arah tindakan yang benar. Kedua, memahami informasi dari permasalahan yang bersangkutan. Jadi, dalam pengetahuan moral ini, harus mengetahui fakta yang sebenarnya mengenai suat hal yang bersangkutan sebelum mengambil suatu penilaian moral.
  • Pengetauan Nilai Moral (knowing moral values): Nilai-nilai moral diantaranya yaitu menghargai kehidupan dan kemerdekaan, tanggung jawab terhadap orang lain, kejujuran, keadilan, toleransi, penghormatan, disiplin diri, integritas, kebaikan, belas kasihan, dan dorongan atau dukungan. Jika seluruh nilai digabung, maka akan menjadi warisan moral yang diturunkan dari satu generasi, ke generasi yang berikutnya. Mengetahui sebuah nilai berarti memahami bagaimana caranya menerapkan nilai yang bersangkutan dalam berbagai macam situasi. Pengetahuan moral ini membutuhkan “penerjemahan”, yang mana membantu setiap individu menerjemahkan nilai-nilai abstrak dari seluruh nilai yang ada ke dalam hubungan personal mereka.
  • Penentuan Perspektif/ sudut pandang (perspective taking): Penentuan perspektif atau penentuan sudut pandang ini merupakan kemampuan untuk mengambil sudut pandang orang lain, melihat situasi sebagaimana adanya, membayangkan bagaimana mereka akan berfikir, bereaksi, dan merasakan masalah yang ada.
  • Pemikiran/logika Moral (moral reasoning): Pemikiran moral mengikutsertakan pemahaman atas prinsip moral klasik yaitu, “hormatilah hak hakiki intrinsik setiap individu”, bertindaklah untuk mencapai kebaikan yang terbaik demi jumlah yang paling besar”, dan “bertindaklah seolah-olah Anda akan membuat semua orang lain akan melakukan hal yang sama di bawah situasi yang serupa”.
  • Pengambilan Keputusan/ Keberanian mengambil sikap (decision making): Aspek komponen moral knowing ini lebih kepada individu itu mampu memikirkan cara bertindak melalui permasalahan moral pada situasi tertentu.
  • Pengtahuan Pribadi/ Pengenalan diri (self knowledge): Pengetahuan tentang diri masing-masing sangat diperlukan dalam pendidikan karakter. Menjadi orang yang bermoral memerlukan keahlian untuk mengulas kelakuan dirinya sendiri dan mengevaluasi perilakunya masing-masing secara kritis.


2. Moral Feeling (Perasaan Moral)
Komponen karakter ini merupakan komponen yang akan mengisi dan menguatkan aspek afeksi individu agar menjadi manusia yang berkarakter baik. Beberapa aspek komponen ini adalah:
  • Hati Nurani/ kesadaran akan jati diri (conscience): Hati nurani memiliki empat sisi yaitu sisi kognitif, mengetahui apa yang benar, dan sisi emosional, serta merasa berkewajiban untuk melakukan apa yang benar. Banyak orang tahu apa yang benar, namun merasakan sedikit kewajiban untuk berbuat sesuai dengan hal tersebut.
  • Harga Diri (self esteem): Berdasarkan penelitian, anak-anak dengan harga diri yang tinggi lebih tahan terhadap tekanan teman sebayanya dan lebih mampu untuk mengikuti penilaian mereka sendiri daripada anak-anak yang memiliki harga diri yang rendah (Lickona, 2013:93). Harga diri yang tinggi tidak menjamin karakter yang baik karena lebih kepada kepemkilikan, popularitas, atau kekuasaan. Seharusnya, mampu mengembangkan harga diri berdasarkan nilai seperti tanggung jawab, kejujuran, dan kebaikan serta berdasarkan pada keyakinan kemampuan diri sendiri demi kebaikan.
  • Empati (empathy): Perlunya empati yaitu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain sehingga kita mampu keluar dari zona kita. Sebagai aspek dari komponen karakter, empati harus dikembangkan secara generalisasi. Mempu melihat di luar perbedaan dan menanggapi kemanusiaan bersama.
  • Mencintai Hal yang Baik/ Mencintai kebenaran (loving the good): Ketika setiap individu mencintai hal-hal yang baik atau mencintai kebenaran, maka setiap individu akan melakukan hal-hal yang bermoral baik dan benar atas dasar keinginan, bukan hanya karena tugas.
  • Kendali Diri/ Pengendalian Diri (self control): Kendali diri atau pengendalian diri sangat diperlukan dalam pendidikan karakter. Emosi tinggi mampu membuat karakter baik menjadi buruk ketika tidak ada pengendali diri. Dengan pengendalian diri, juga dapat menahan segala hasrat dan keinginan negatif dalam diri.
  • Kerendahan Hati (humility): Kerendahan hati merupakan keterbukaan yang sejati terhadap kebenaran dan keinginan untuk bertindak guna memperbaiki kegagalan kita. Kerendahan hati adalah sisi afektif pengetahuan pribadi.

3. Moral Acting (Tindakan Moral)
Komponen tindakan ini merupakan hasil dari kedua komponen karakter lainnya yaitu moral knowing dan moral feeling. Aspek dari komponen tindakan moral atau moral acting ini yaitu:
  • Kompetensi (competence): Aspek ini mampu mengubah penilaian dan perasaan moral ke dalam tindakan moral yang efektif. Untuk hal ini, kita harus mampu merasakan dan melaksanakan rencana tindakan.
  • Keinginan (will): Keinginan berada pada inti dorongan moral. Menjadi orang yang baik memerlukan tindakan keinginan yang baik, suatu penggerakkan energy moral untuk melakukan apa yang kita pikir harus dilakukan.
  • Kebiasaan (habit): Kebiasaan yang baik melalui pengalaman yang diulangi dalam apa yang dilakukan itu membantu, ramah, dan adil dapat menjadi kebiasaan baik yang akan bermanfaat bagi dirinya ketika menghadapi situasi yang berat.
Melalui ketiga komponen di atas dengan aspek komponennya masing-masing yang saling bekerjasama untuk saling mendukung dapat menciptakan karakter yang baik.

Sedangkan karakter Ibu Profesional sendiri ada 5, yaitu:
1. Never stop running, the mission alive
2. Don't teach me, I love to learn
3. I know can be better
4. Always on time
5. Sharing is caring

Pengumpulan Tugas: Misi Hidup dan Karakter IP

Sebenarnya ada dua misi besar yang saya rasa Allah titipkan atas kehadiran saya di dunia ini secara khusus –setiap manusia pasti memilikimisi khusus penciptaan dia di bumi, terlepas dari misi wajib beribadah pada-Nya, yaitu:
- Menjadi ibu rahim peradaban mencetak generasi penakluk Roma
- Membantu keluarga Muslim dapat lebih aware dalam merencanakan keuangan dengan prinsip syariah

Pertama, 
Menjadi rahim peradaban tentunya adalah peran semua wanita. Allah telah titipkan alat berupa rahim untuk bisa mencetak keturunan-keturunan yang baik untuk bisa beribadah kepada Allah, dan melaksanakan tugas khalifah di muka bumi.
Allah menitipkan tugas besar yang belum selesai untuk agama-Nya dari rahim-rahim kita, keturunan-keturunan kita. 
Saya merasa memiliki tugas yang sama untuk bisa menjadi salah satu 'pencetak peradaban' untuk tugas mulia ini. InsyaAllah, pun begitu dengan member Ibu Profesional lain.
Tentunya dengan mengemban misi ini saya perlu mempersiapkan hal baik dari fisik saya pribadi dan ilmu pengetahuan untuk kecakapannya. 

Kedua,
Ini adalah misi saya dalam kaitannya dengan kemampuan bidang ilmu yang saya miliki. Niat awalnya untuk memperbaiki cara pengelolaan rejeki dari mendapatkannya hingga pendistribusian secara pribadi, tetapi alangkah bermanfaat jika ilmu itu juga untuk lingkungan luar. Saya ingin bisa membantu keluarga Muslim lainnya untuk bisa menggunakan prinsip syariah dalam segala kegiatan keuangannya. InsyaAllah..

Tentunya dalam mencapai misi tersebut, karakter-karakter Ibu Profesional sangat diperlukan agar bisa membantu menguatkan. 

Saya tidak mudah menyerah. Tidak akan berhenti menjalankan misi dan tugas hidup saya dengan perasaan suka cita. Terus bergerak, misi tidak pernah mati.

Saya senang belajar, punya semangat belajar yang tinggi untuk meningkatkan kualitas diri baik sebagai individu, istri, dan ibu nantinya.

Saya selalu ingin menjadi lebih baik dari hari ke hari. 

Saya berusaha pandai mengatur waktu dalam segala peran yang diemban dalam kehidupan.

Dan saya tidak memikirkan diri sendiri, peduli terhadap sesama, suka berbagi apa saja, termasuk ilmu dan pengalaman. Namun, hanya membagikan apa yang sudah saya alami dan praktikkan.


اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْ قًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً


[Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’a wa rizqon thoyyibaa wa ‘amalan mutaqobbalaa] 
“Ya Allah, aku memohon pada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyyib dan amalan yang diterima” 
(HR. Ibnu Majah no. 925, shahih)


-----

#Misi7
#penjelajahsamuderaamarta
#matrikulasi9
#InstitutIbuProfesional
#semestakaryauntukindonesia
#institutibuprofesionalforIndonesia 

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar