Updated: Kemandirian Perempuan, Apakah Harus Ada Batasannya?

By chikitadinda - 23.01

Halo temanteman jajanmicin kebanggan gue (hahaha).
Jadiii, kali ini gue pengen nulis dengan tema yang serius, yang bisa buat kita sama-sama diskusi. Setidaknya suka baca jajanmicin tapi tetep seneng diskusi kan yaa (ciee). 

Tergelitik dari bulan lalu kepikiran sama hal ini karena cerita dari salah satu temen gue, yang gue samarkan namanya jadi Mawar. 

Jadi si Mawar ini cerita sama gue, berhubung kami lama ga ketemu, jadilah banyak bertukar cerita. Katanyaa, dia sekarang lagi deket sama cowok yang dia kenal dari nikahan katingnya. Singkat cerita dia punya kating asal Surabaya (atau Gresik pokoknya daera situ lah ye) yang mau nikah dan si Mawar ini diundang. Karena Mawar ga ada tebengan dari Malang buat kesana, dia masih galau mau naek apa kesananya. Akankah naek kereta? Akankah naek bis? Dia tak tahu (hmm) Dia cerita ke nyokapnya dan katanya kalo emang nggak ada barengannya mendingan gausah dateng aja. Nyokapnya nggak berani untuk mengijinkan si Mawar pergi seorang diri ke nikahan ini.

Jadilah si Mawar kebingungan cyurhat sana sini termasuk sama yang nikah. Dan kating yang nikah itu katanya punya temen yang mau dateng domisili Malang dan bawa mobil sendiri. Dan terjadilah pertemuan itu gaes.

Di lain tempat, ada kasus yang berbeda 180°.

Ada seseorang sebut saja Melati. Nah si Melati ini anaknya sukanya sendirian, lebih ke berani ngapa-ngapain sendiri sih. Dari kecil dia udah terbiasa buat kemana mana sendirian. Dari SD dia udah ke Malang, Surabaya, sendirian buat main ke tempat kakaknya yang kuliah di kota tersebut. Ya meskipun naek travel sih kesananya, tapi tetep aja, dalam perjalanan dia sendirian. Pas SMA kelas dua, dia juga udah terbang beda pulau sendirian naek pesawat. Pokoknya dia kemana mana biasa deh sendiri. Sampai pada masanya dia kuliah, dia udah ke kota-kota besar sendirian (meskipun disananya ada temennya yg kuliah di kota tersebut ya) tapi dalam perjalanan kesananya sendiri. Dann, nyokapnya memperbolehkan hal itu terjadi secara nyata (yhaa).

Oke, dari cerita gue diatas nangkep nggak garis besar apa yang mau gue bahas kali ini?


Gue lebih ke penasaran aja sih. Apakah ada sebuah limit atau patokan kapan sih seorang perempuan itu harus 'tidak mandiri' atau setidaknya dia tidak perlu terlalu melakukan semuanya sendiri (meskipun dia sebenernya bisa saja mencapai titik itu). Dengan dia berani dan bisa melakukan apa apa sendiri, apakah itu sebuah kesalahan? Atau harusnya perempuan harus sedikit menahan diri karena bisa jadi dengan kemandirian dan segala hal yang bisa dia kerjakan sendiri itu dia akan melewatkan sesuatu yang baru yang bisa dia dapet dengan 'tidak usah mandiri mandirI amat'. 'Melewatkan sesuatu' disini bukan hanya soal jodoh/lawan jenis kayak kasusnya Mawar ya, bisa apapun terjadi, Waallahualam.

**Oh yaa, sebelumnya gue mau menekankan ya. Gue nggak menganggap si Mawar nggak mandiri. Karena variabel yang menyebabkan dia nggak ke Surabaya (ato Gresik pokoknya itulah ye wkkw) itu karna faktor ijin nyokap, which is itu memang harus dipatuhi.

Atau nggak misal dalam case lain deh. Si Melati ini sebagi perempuan 'mampu' untuk melakukan apa apa sendiri. Dia anaknya cenderung bebas melakukan sesuatu sendirian, ngatur diri sendiri, menyelesaikan masalahnya sendiri. Dan secara relatif jarang mencari pertolongan ke orang lain. Melati juga menguasai keahlian dan keterampilan yang sesuai dengan kerjanya, jadinya kesannya semua hal bisa dilakukannya sendirian.

Jadi poin yang gue masih penasaran kepengen tahu adalah bagaimana pandangan kalian terhadap perempuan yang 'terlalu mandiri' seperti Melati ini tadi. Apakah itu sebuah kesalahan? Apakah sebenarnya nggak salah salah banget tapi yang nggak bener juga? Atau kayak gimana?

Gue masih belum menemukan jawaban. Banyak banget asumsi-asumsi yang muter-muter di otak gue.

Soo,
Jika diantara kalian yang baca postingan gue kali ini, gue sangat menyarankan untuk bisa sedikit memberi tanggapan dan bisa diskusi sama gue. Bisa dari sudut pandang cowok, bagaimana kamu melihat sosok perempuan seperti si Melati ini. Atau bisa juga dari sudut pandang cewe jika menemukan si Melati dalam kehidupan nyata dan dekat dengan kalian.

Lanjutan....
Jadi, setelah gue open question ini di Instagram gue, ada beberapa orang (nggak banyak ternyata, gue terkaget karna ternyata untuk bahasan yang lumayan berat followers gue kurang minat ya hehe) yang memberikan tanggapannya ke gue. Kami jadi berdiskusi dan akhirnya gue menemukan sebuah kesimpulan.

Dan yang membuat gue tercyerahkan adalah kata kakak gue:

"Ya bener ibuknya si Mawar. Berarti beliau paham bagaimana menjaga anak perempuannya. Aku pun misalnya jadi ibuknya si Mawar ya pasti aku anterin untuk urusan yang urgent. Atau nggak ayahnya, masnya. Kalo misal cuma untuk sesuatu yang nggak penting dan sikon tidak memungkinkan untuk datang ya lebih baik nggak usah pergi apalagi dibela-belain sendirian."
Menampol guys!

Karna memang berdasarkan fitrah perempuan, dalam fiqh wanita itu sebenernya udah ada semua aturan-aturannya, diatur semua batasan-batasannya. Menjadi perempuan kita harus menjaga izzah, termasuk ketika menjadi istri, pergi kemana pun juga harus atas ijin dari suami. Terutama soal safar/perjalanan.

Kalo jaman dahulu memang wanita itu dilarang untuk melakukan safar sendirian. Karna mungkin secara lingkungan dahulu itu nggak aman dan memang diperlukan muhrimnya untuk bisa saling menjaga.

Dalam perkembangannya, wanita boleh kok pergi sendirian kemana-mana sendiri, nggak ada batasannya, asalkan, kalo menurut gue pribadi, dari dirinya sendiri menanamkan untuk menghindari hal-hal yang berpotensi untuk membahayakan dirinya. Misalnya, kayak nggak pulang terlalu larut kalo sendirian, dipastikan ada muhrim yang nemenin buat perjalanannya dsb.

Jadi, sebenernya, kalau contoh gue ambil itu, tentang Mawar dan Melati ini, udah nggak masuk konteks kemandirian lagi. Tapi lebih ke tanggung jawab dari fitrah seorang perempuan.

Gue jadi lebih mendalami lagi dan baca-baca lebih jauh. Dengerin kajian di youtube dan ngobrol-ngobrol terkait ini. Memang, ilmu gue masih cetek banget untuk tau hal sesimpel ini.

Kalo untuk kemandirian lain yang lebih luas, kayak misalnya bisa menghasilkan uang sendiri (apalagi masih single), bisa melakukan apa-apa sendiri dengan baik, itu malah sangat bagus. Jaman Rasulullah saja banyak Shahabiyah yang ikut perang, kurang mandiri apalagi?

Jadii,
Alhamdulillah.
Sudah puas dengan hasil diskusi gue kali ini.
Terimakasih kakak gue dan (beberapa gelintir) temen gue yang ikutan diskusi.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar