My Hopes and Dreams in Five or Ten Years

By chikitadinda - 21.49

Gue nggak pernah sepersonal ini ngomongin hal pribadi. Apalagi soal harapan dan mimpi. Gue cenderung orang yang tertutup dan nggak mau berbagi, even ke orang terdekat gue. Secara detail yaaa. Paling kalo sneakpeak gambaran umum gue sempet beberapa kali sebutin.

Tapi...
Kalo serinci ini. Gue sebenernya agak kurang nyaman.

Teruss,
Kenapa akhirnya memutuskan berbagi?

Buat pengingat.
Sebagai reminder kalo gue pernah bermimpi dan punya harapan seperti ini. Nggak lupa dan terlena dengan jalan yang nantinya bakal gue ambil.


Semua bermula ketika gue berada dalam sebuah percakapan tentang pengembangan karir. Diskusi berjalan lancar yang intinya ngomongin soal kalo pengen fokus dalam karir, seseorang harus bisa masuk dalam "The Big Four" perusahaan yang sesuai dengan lingkup spesialis lo.

Misal, lo punya spesialis di finance, ya paling nggak kalo mau fokus berkarir, secara ideal harusnya lo punya visi untuk bisa bergabung di "The Big Four"-nya Finance, yaitu: Delloite, E&Y, PWC, sama KPMG. Misal spesialis lo di Sipil, ya masuk ke WIKA, Adhi Karya, dll.

Maybe akan gue jelasin lengkapnya dalam postingan berbeda yaa di segmen #MenjadiKaryawan. Biar bisa lebih mendetail.

Singkat cerita, obrolan berujung pada pertanyaan diskusi, "Kalo menurut kamu gimana?"

Gue sebenernya setuju. Setuju banget!
Buat yang memang pengen punya visi misi kedepan karir yang cemerlang, baik cowok maupun cewek, cara itu bagus banget. Jadi ngerti tujuannya kemana, perusahaan apa yang mau dibidik. Ngerti pijakannya mau kemana gitu.

Lalu masuk ke gue pribadi.

Gue nggak memilih jalan itu.

Kenapa?
Karena gue nggak punya visi dan misi dalam karir duniawi seperti itu.

Kalo ada yang tanya, "Lo pengen ga sih jadi wanita karir? Mengembangkan diri dengan skill-skill yang lo miliki saat ini, terus diasah, buat mencapai suatu titik puncak karir yang cemerlang?"

Nggak.
Gue nggak muluk muluk kayak gitu loh.

Serius.

Mungkin karena gue memang sejak awal ga pengen jadi wanita karir banget gitu yaa. Jadi ya gue kerjanya ga yang ter-plan buat kesitu.

Gue pribadi memutuskan bekerja saat ini tujuannya cuma buat nambah skill praktis dan softskill ajaa, buat nantinya bakal kepake, untuk suatu tujuan lain dimasa depan.

Jujur, kalo gue punya anak, gue ga akan lanjutin kerja. Pengennya dampingin tumbuh kembangnya. Jadi 'kerjanya' ya belajar bareng anak, eksplor lagi karna nantinya pasti banyak juga yang belum gue tahu. Belajar nggak berhenti meski punya anak, bahkan bisa jadi dengan punya anak itu menjadi titik awal belajar.

Baru nanti kalo anaknya udah dirasa 'cukup', udah ABG gue bisa mulai fokus untuk membuat apa yang pengen gue buat, yang udah gue cicil tentunya di proses gue mendampingi anak tadi. Bikin project-project, workshop, beberapa pelatihan yang gue pelajarin selama pendampingan tadi.

Apa yaa..
Jadinya ga muluk-muluk soal harus pencapaian karir gitu jadinya, sederhana banget.

Bukan. Bukan gue nggak punya mimpi yang tinggi, dan berfikir bahwa wanita itu baliknya ke dapur, anak, ngurus keluarga. Mengubur mimpi hanya untuk jadi Ibu Rumah Tangga.

Justru transisi dari wanita karir/kantoran menjadi ibu rumah tangga itu berattt banget. Katanya mending kerja kantoran, karna jadi IRT itu lebihh capek, lebih riweuh, jam kerja rasanya 24/7 ga kelar kelar.

Emang nggak sayang??
Udah sekolah tinggi-tinggi. Kerja ditempat yang bagus. Lo bisa juga ngembangin karir di tempat yang lebih bagus lagi dengan kemampuan lo.

Ya ini pilihan sih.
Lagian apa yang salah dari pendidikan tinggi, pinter, terus jadi ibu rumah tangga?
Justru memang butuh ber pendidikan tinggi  untuk bisa jadi madrasah bagi anak-anak gue. Bahkan kadang pendidikan tinggi itu belum cukup. Masih banyak yang harus dipelajari.

Diskusi berlanjut dengan pertanyaan, "Kenapa nggak jadi PNS aja? Pulang cepet, dapet gaji. Bisa tetep ngurus anak juga?"

Gue berpikir bahwa gue nggak mau setengah-setengah. Mau full pendampingan itu tadi. Waktu tuh rasanya cepet banget tau. Tiba tiba aja anak udah gede. Dah bisa merangkak, dah bisa jalan, dah bisa ngomong, makan sendiri. Mau apa-apa sendiri. Gue nggak mau melewatkan itu semua. Pilihan gue adalah mendampingi semua prosesnya, saling belajar dan bisa penuh untuk fokus kesana.

Gue akan sangat sedih kalo mendapati anak gue nantinya nggak deket sama gue, ga merasa nyaman bareng gue. Lebih memilih mencari perlindungan diluar 'rumah' karena gue melewatkan tumbuh dan kembang dia, gue nggak mendampingi dia dengan baik.

Dia hanya menjawab, "Yaa..semoga kamu nggak terlena yaa sama IRT itu tadi yaa"

Gue tahu, dia tipe orang yang sebenernya lebih pro untuk istri bekerja. Ketika ditanya alasannya cukup menarik,

"Soalnyaa yaa aku percaya kalo istri pekerja dia punya power juga dalam keluarga. Bahayanya kalo kamu jadi IRT, kamu jadi depend ke suami...

...dan juga kasian sama istri. Jadi tumpul proficientnya. Itu aja yang aku pikirin"

Gue ke trigger untuk jelasin.
Keahlian dan skill-skill yang dimiliki nggak bakal tumpul kok. IRT juga bisa berkembang. Nggak karena jadi IRT terus berhenti untuk berkembang dan belajar. Tergantung orangnya aja. Yaa mungkin ada beberapa orang yang nggak bisa yaa, karena beberapa situasi dan kondisi.

"Yaa, aku hanya merefleksikan diri aja sih. Aku kalau ga ada paksaan/deadline ya nggak belajar. Apalagi IRT yang hanya dirumah aja, yang nggak tahu planning kedepannya gimana."

Oke. Gue setuju poin ini. Gue juga termasuk orang yang harus ada deadline dan paksaan biar bisa on the track melakukan sesuatu. Ini pun juga bakal menjawab bagaimana biar nggak terlena dan terlalu larut jadi IRT.

Gue pribadi sudah memikirkan ini. Gue menyiapkan diri dengan ikut komunitas dimana disitu ada semacam kurikulum. Ada deadline ngumpulin tugas, ada bikin project-project gitu. Jadi ada yg bisa bikin tetep jalan untuk berkembang dan belajar itu tadi. Ada forum juga untuk berkumpul dan support system. Tapi ini pun juga ga bisa dijadikan satu-satunya pijakan yaa, hanya menjadi salah satu fasilitas aja.

Dan masalah ketumpulan skill, gue tetep bisa kok untuk menggunakan skill-skill yang pernah gue miliki meski nggak dalam pekerjaan kantor. Selain itu, gue juga berfikir untuk tetep ambil freelance. Meskipun yaa tentunya hasilnya bakal ga seberapa yaa secara materi, ga sustainable karena nggak tetap, tapi at least tujuan gue kesana untuk penyaluran hobi dan buat tetap ngasah skill disitu.

Lagian kalo digali lebih dalam yaa, buaannyyaakk banget kali skil-skill yang bisa tetep dipelajari even hanya menjadi IRT. Apalagi saat gue ngelihat kakak gue, yang notabene juga lulusan S2, sebenernya bisa banget memilih kerja enak mengembangkan karir kenotariatan dia, penghasilan juga bisa aja gede disana, tetapi lebih memilih untuk menjadi Ibu Rumah Tangga.

Sedikit banyak memang pola pikir gue didapet dari mengamati dia sih. Dari apa yang dia lakuin, gimana gue ngelihat frame 'keluarga' dan segala role-nya dari dia.

Muncul lagi pertanyaan yang sempet kami bahas sebelumnya tapi belum kelar,
"Kalo kamu jadi IRT, dengan single income, dan kamu udah bergantung sama suami, kalo misal (amit-amit) ada kejadian yang tidak diinginkan kayak perceraian atau ditinggal meninggal, gimana kamu ngelanjutin hidup?"

Gue termenung.
Gue pernah kepikiran hal ini.
Tapi setiap gue kepikiran, gue menggelengkan kepala tanda gue nggak mau hal itu terjadi dan nggak mau mikirin lebih jauh.

Dititik ini gue belum ketemu jawaban yang sangat meyakinkan gue pribadi.
Dan gue langsung minta saran dengan mengirimkan chat ke kakak gue sebagai orang yang gue yakin udah memikirkan hal ini saat memutuskan menjadi IRT.

"Hal yang paling aku takutkan malah kalo aku nantinya mati dulu dan aku nggak pernah ngurus anakku. Anak-anak nggak punya kedekatan sama aku dan sama sekali nggak ada pahala yang mengalir dari anak-anak. Kesannya aku IRT apa ya selalu sumber penghasilan hanya single income. Apa iya IRT itu nggak produktif. Allah punya jawaban pada setiap perjalanan manusia."

Ini pernah dia jabarin di buku tulisannya, sih. Judulnya "Chamomile Tea for Wonderful Mom"


Gue langsung tertampar, dan makin yakin bahwa gue tinggal lebih memantapkan diri dan bersiap untuk melangkah kesana aja.

Dan kemudian diskusi berakhir dengan kalimat,
"Aku sebenernya terserah istri sih. Kalau mau IRT yaa monggo."

Kalo gue pribadi, yang penting gue sebagai istri punya alasan kuat kenapa memilih jalan itu dan bisa mengkomunikasikannya ke calon gue sih. Ketemu win-win nya.


Baiklaaaaahhh....
Tulisan ini gue buat untuk reminder ke gue 5 atau 10 tahun yang akan datang. Mau gue saat itu lagi capek, lagi nggak kuat, atau ada sesuatu yang mengganggu pikiran gue, gue harus inget bahwa gue udah punya visi dan misi kedepan seperti ini. Untuk nggak lupa sama tujuan awal gue apa.

Gue yakin, akan berbeda bagi setiap orang. Itu keputusan masing-masing. Gue nggak menganggap keputusan itu yang paling baik secara umum dan semua orang harus melakukan ini.

Nggak.

Semuanya punya pemikiran masing-masing. Semua orang tahu mana yang terbaik buat diri mereka sendiri. Punya kepitusan dan pertimbangan sendiri-sendiri.

Buat yang memilih jalan berkarir, gue akan sangat appreciate itu. Gue bangga lo punya mimpi sebesar itu dan gue yakin dalam mencapainya nggak gampang. Buat yang nantinya memilih menjadi IRT kayak gue, gue support penuh. Keputusan lo juga nggak gampang. Dan buat yang mampu beriringan menjadi wanita karir sekaligus mengurus anak, gue acungi empat jempol, standing applause karena gue yakin itu bukan hal yang mudah buat lo jalanin.

Gue yakin, asal kita sudah punya ketetapan dan tujuan yang jelas, hasilnya akan baik. Pilihan masing-masing jelas akan berbeda, nggak bisa disamain. Jadi yaa tinggal saling menghargai aja.


Dan sekali lagi,
Sebagai penutup postingan ini,
Percayalah bahwa..
"Allah punya jawaban pada setiap perjalanan manusia."

  • Share:

You Might Also Like

2 komentar

  1. My all respect for your plan, hopefully you make best decision ever for your life. Mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Awww, tengkyuu abilla!!! For your hopes and dreams too yaa! Semoga sukses selalu

      Hapus