Tentang Kesiapan: Bukan Penilaian Narsistik Semata

By chikitadinda - 21.14

Gue random.


Asli.

Gue lagi pengen nulis dan share di blog tentang bahasan ini karna barusan baca-baca literatur soal nikah muda dan segala hal tentang pernikahan lah pokoknya.

Tambah lagi ke trigger soalnya, kemarenan abis ngobrol sama temen tentang nikah, manajemen uang, tujuan keuangan dll.


Kenapa hal ini mengganggu gue?

Jujur, jika ditanya tentang:

"Lu pengen nikah kapan sih chik?"
"Target nikah lu umur berapa sih?"

Gue selalu jawab "23". Angka. Real. Tepat.

Dan itu berarti tahun ini dong? Wk

Bukan karna gue ikutan tren nikah muda yang lagi happening yaa. Gue pun kalo ditanya dari jaman SMA jawabnya umur segitu, dan selalu dibilang, "Gile, kenapa muda-muda amat sih"

Cuman ya dari gue pribadi ketika melihat dan menyusun 'peta' kehidupan, umur ini dirasa cocok untuk menjalani stage pernikahan ini.

Selain itu, mungkin karena benchmark gue kakak kali ya, dia pun menikah diumur segitu.

**tapi kan manusia hanya perencana ya, gue jg nggak yg harus banget maksa sekarang sama siapa aja yg penting gue nikah umur 23!!**

Tapi pertanyaannya, apakah gue emang sesiap itu? Apakah gue sudah melihat segala aspek menyeluruh yang ada dalam kehidupan pernikahan.

Apakah gue sudah layak dan sudah bisa mencapai poin poin kesiapan pernikahan?

Terkadang kita menilai diri itu terlalu narsistik.

Penilaian dari kita, untuk kita, oleh kita. *kek djp yak wk


Ketika ditanya emang lo siap?

"Gue siap kok. Gue dah bisa masak. Gue bisa beres-beres rumah. Gue mandiri. Gue ngurus diri sendiri. Gue udah bisa menghasilkan duit sendiri. Gue udah dewasa."

Anyway, wujud langkah nyata gue pengen merealisasikan mimpi nikah umur 23 pun udah gue cicil dari dulu. Dengan belajar dan suka masak, belajar mandiri, suka "merawat".

Soal suka merawat disini gue seneng banget "melayani" orang lain. Seneng banget masakin pacar yang sekarang mantan, suka bebikinan kue ato jajanan yang gue paksain untuk dia coba. Yang ketika enak dia bakal bilang enak, dan ketika nggak enak ya dia bilang ga enak. Jadi gue bisa belajar lagi biar lebih enak.

Pokoknya dulu bayangan indikator kesiapan nikah tuh ya gitu, remeh sekali yaa. Wk. Biasa remaja labil. But at least, gue merasa sedang mempersiapkan saat itu.

Tapi tapi balik lagi.

Semua penilaian diri itu ga serta merta cuman penilaian sendiri, self assessment.


Perlu juga dapet claim dari keluarga/orang terdekat. Dapat persetujuan bahwa lu siap nikah atau lu dah dewasa.

Karna sekali lagi, nikah tuh nggak cuman sekedar bisa masak. Nggak sekedar bisa melakukan pekerjaan rumah tangga dengan baik. Nggak cuma hahahihi dan menjadikan hubungan cewek-cowok menjadi halal.

Ini urusan seumur hidup lho.

Gini gini.

Kita melakukan ibadah, sholat misal subuh, itu aja ngabisin waktu sekitar 5 menit. Ya kalo ditambah doa dan dzikir bisa lah 20 menit.

Ditambah baca Al Quran bisa lah 40-60 menit.

Kalo ikut kajian paling sekitar 2-3 jam.

Mau umroh juga butuh waktu 9 hari. Ya maksimal 12 hari lah ya.

Mau naik haji bahkan butuh waktu lebih lama lagi, 40 hari. Bisa leebih.

Ini nikah, meskipun memang akad cuma berapa detik, tapi ngejalaninnya selamanya coy. Seumur hidup.

Ibadah pernikahan harusnya jangan diambil dengan keputusan yang sama kayak lo mutusin beli kacang goreng. Terlalu dibawa simple.


Jadi gimana dong?
Lu ceramah mulu daritadi dah chik!
Wk.

Oke.

Selanjutnya harus gimana? Gue nilainya gimana? Apa yang harus gue perhatikan sebelum nikah?

Tanyain lagi...

1. Sudahkah Lu Dewasa?
Pertanyakan yang sebenar-benarnya. Lu udah dewasa belum sih. Penilaian menyeluruh ya. Baik lu pribadi yang nilai, orang tua, saudara kandung, sahabat deket pun boleh lu gali.

Apakah dimata mereka lu udah cukup dewasa? Buktinya apa? Apa tingkah laku yang bikin lu dikatakan dewasa?

Atau at least lu udah ada perjalanan menuju dewasa ga sih.
  • Apa diri lu dah siap dan bersedia bernegosiasi sama hal-hal penting yang muncul dalam kehidupan rumah tangga kelak?
  • Apa diri lu dah siap dan bersedia saling terbuka akan keinginan masing-masing?
  • Apa diri lu dah siap dan mampu menanggung hidup orang lain? Pasangan dan nantinya jika punya anak? 
Dan, masih banyak pertanyaan lainnya.

2. Sudahkah Selesai Dengan Diri Sendiri?
Ini yang selalu gue tekenin sih.

Gue merasa selesai dengan diri sendiri itu sangat penting dan kunci utama sebelum membangun hubungan sama orang lain.

Selesai dengan diri sendiri itu berarti lu nggak melemparkan kebingungan ke orang lain. We should always give answers and make nobody worried. Ketika suami butuh pertimbangan, ketika anak merajuk, dan lain sebagainya.

"Selesai dengan diri sendiri" itu kondisi dimana seseorang punya kemampuan mengendalikan keadaan.

Sebaliknya, "belum selesai" berarti masih sangat bergantung kepada kesempatan yang diberikan waktu dan masih menjadi budak kesibukan diri sendiri. "Belum selesai" juga berarti kebingungan ke mana kaki lu bakal melangkah.

Selesai juga berarti udah settled dengan segala hal personal, termasuk manajemen stress dan pengendalian diri.

Menikah berarti lu udah siap komitmen untuk berkompromi, berkorban, and struggle for the most benefit for both.

Selesai dengan diri sendiri juga berarti punya mekanisme yang teruji saat lu menghadapi kesulitan. Kemana bakal ngadu, gimana cara rebound, dan berupaya untuk tidak menyalahkan orang lain atau keadaan atas hal buruk yang menimpa diri lu.

Paling sederhananya, berarti datang untuk hidup bersama dengan nggak membawa masalah-masalah pribadi kepada si calon pasangan lu. Pun sebaliknya.

Bakal seneng ga sih kalo suatu hari seseorang datang dan bilang,

"Okay, i am done with myself, what can WE do together?"

Gitu maksud gue.

Karna terkadang urusan sepele karna "belum selesai dengan diri sendiri" ini bisa jadi permasalahan besar yang berujung (amit-amit) bercerai.

Udah ah.
Itu hal fundamental yang harus lu pahamin sih sebelum melanjutkan ke hubungan yang lebih serius.

Itu menurut gue yaaaaa...

At least dua itu aja ga usah banyak-banyak dulu.
Kalo lu merasa udah punya keduanya dan masih belum ada yang ngajak serius, it's okay.

Alloh tahu timeline yang tepat.

Jangan sok tahu.
Dia-lah perencana terbaik.

Deketin aja Alloh. Rayu.
Ntar juga dateng.

  • Share:

You Might Also Like

1 komentar

  1. Hoalah ternyata kemaren lagi survey to sister? Jadi udah berapa persen menuju kedewasaan?

    BalasHapus