WhatILearn #01: Kenapa Orang Takut Punya Komitmen?

By chikitadinda - 19.30

"Emang bener kamu orang yang tepat?"
"Gimana kalo ternyata aku/kamu ada yang bikin kecewa?"
"Gimana kalo ternyata setelah menikah nggak sesuai harapan?"
"Gimana kalo ternyata kita sebenernya belum siap?"


Diatas adalah contoh beberapa pertanyaan,
Yang muncul sebagai pemantik saat diskusi ngomongin hubungan yang lebih serius.

Ketertarikan gue untuk menggali dan ngepoib lebih dalam soal pada titik apa sih seorang cowok bakal memutuskan untuk siap menikah, membawa gue sejauh ini.

Salah satu yg menjadi obstacle adalah bayangan akan kegagalan yang bakal dihadapi nantinya. 


Beberapa fakta yang gue temuin adalah jumlah pernikahan di Indonesia punya angka penurunan secara kuantitas, tetapi dari angka perceraian trennya cenderung naik. 


"Kebahagiaan merupakan tujuan utama kehidupan manusia."

Gue ngutip kalimat pertama yang ditulis di Bab 1 buku bahan ajar mata kuliah Ekonomi Islam. Jadi bukan berasal dari asumsi gue sendiri ya. 


Terus...
"Gimana caranya kita bisa mencapai tujuan itu?"

Gue sering denger kalo menemukan cinta sejati adalah kunci kehidupan bahagia.

Dalam prosesnya, ketika udah merasa ketemu yang cocok, orang bakal jadiin hubungan yang dinamain pernikahan.

But the fact is, perceraian dan kegagalan nyebab-in banyak luka dan patah hati.

Kalau sebegitu sulitnya kita menjalani hidup kayak gitu, kenapa mayoritas manusia jadiin ini tujuan utama dalam hidup?


Well,
Mungkin ini juga yang mendasari ketakutan-ketakutan beberapa orang untuk memutuskan langkah ke pernikahan..
  • Ternyata belum siap secara pribadi dan akhirnya belum bisa jadi imam dan qowwam (jika lelaki), shalihat (jika perempuan)...
  • Ternyata belum siap secara finansial dan akhirnya bikin pasangan jadi ikutan sengsara...
  • Ternyata belum siap secara mental dan akhirnya melakukan perselingkuhan...
  • dst.


Tapi... Sebenernya Kenapa Sih Kita Ketakutan?

Ada kalimat yang selalu gue inget kalo ngomongin ini..

"Ketidaktahuan menyebabkan ketakutan, pengetahuan menyebabkan ketenangan."

Kalimat itu berlaku buat apa aja dalam hidup..


Bisa disimpulin, harusnya kita lebih banyak cari tahu biar nggak terus tenggelam sama ketakutan-ketakutan yang ada, kan? 

Salah satu caranya, kita harus tahu dulu apa sih penyebab kegagalan itu sendiri..


Gue kutip dari insider.com, ada lima penyebab perceraian (kegagalan dalam pernikahan) adalah: lack of commitment (75%), perselingkuhan (59,6%), terlalu banyak konflik dan berdebat (57,7%), menikah terlalu muda (45,1%), dan masalah keuangan (36,1%).

Dengan ngerti akar masalahnya, kita sendiri bisa mencari solusi gimana sih biar nggak sampe mengalami hal itu..

Gue coba kumpulin dari berbagai sumber untuk lebih lengkapnya...

1. Lack of Commitment (75%)

Padahal definisi dari pernikahan itu adalah komitmen, dan kurangnya komitmen menjadi penyebab terbesar perceraian terjadi. 

Hmmm...

Johnson (2006) dalam papernya yang berjudul "A “General” Theory of Intimate Partner Violence: A Working Paper" bilang kalo ada tiga macem komitmen yaitu: moral; struktural; dan personal, dimana ketiganya bisa berdiri sendiri. 

Faktanya, orang-orang yang cenderung bertahan dengan terpaksa dalam pernikahan, mereka punya komitmen moral dan struktural yang tinggi tapi komitmen personalnya rendah. Maka bisa diartiin kalo komitmen moral dan struktural sebenernya punya peranan penting ketika seseorang memutuskan untuk bercerai. 

Kedua komitmen itu bisa menghindari pasangan untuk bercerai, tapi keduanya nggak bisa jamin kebahagiaan dalam pernikahan itu sendiri.

Kedua komitmen itu cuma menurunkan probabilitas terpilihnya perceraian sebagai sebuah solusi.

Orang yang punya komitmen moral dan struktural tapi nggak punya komitmen personal bakal ngeluh kalo pernikahannya garing. Pernikahan juga jadi lebih rawan sama konflik. Ditambah udah nggak ada lagi rasa tertarik sama hubungan dan pasangan, masing-masing bakal kehilangan minat buat nyelesein konflik itu. 

So, pasangan ini bakal jadi rentan sama perselingkuhan --dimana ini menjadi penyebab perceraian terbanyak nomor dua.

Buat menghindari itu semua, tentunya sangat penting buat paham apasih tujuan pernikahan kita dan juga punya ketiga komitmen diatas. Yang terpenting, tujuan dan komitmen nggak cukup cuma datang dari satu pihak pasangan aja, harus berasal dari keduanya. 


2. Perselingkuhan (9,6%)

Selterman dkk (2015) dalam penelitiannya yang berjudul "Motivations for Extradyadic Infidelity Revisted" menemukan delapan faktor dasar yang jadi penyebab seseorang selingkuh. Diantaranya, adanya rasa nggak puas dalam hubungan, amarah, rendahnya komitmen, juga kurangnya rasa cinta ke pasangan.

Studi lain yang dipublikasikan di British Journal of Psychology terkait faktor yang mungkin menjadi penyebab seseorang berselingkuh adalah orang-orang yang punya sifat impulsif punya persentase kecenderungan lebih besar untuk selingkuh. Mereka bisa jadi nggak mempertimbangkan situasi dan malah ngambil tindakan karna ikutin pikiran dan perasaan sesaatnya aja.

Dari beberapa faktor diatas, gue rasa udah cukup untuk bisa ngerti apa aja yang bisa kita lakuin untuk menghindari sebuah perselingkuhan.

3. Terlalu Banyak Konflik dan Berdebat (57,7%)

Dari survei insider.com, secara umum konflik mereka nggak diselesaikan dengan tenang atau efektif dan semakin memburuk seiring waktu. Mereka melaporkan bahwa masalah komunikasi semakin meningkat dalam frekuensi dan intensitas selama pernikahan yang mereka jalani, yang kadang-kadang tampaknya bertepatan dengan hilangnya perasaan koneksi positif dan dukungan timbal balik dalam hubungan.

Hal ini juga bisa menimbulkan frustasi akibat terlalu banyak berdebat.

Selain itu, tingginya ego pada masing-masing individu juga menjadi salah satu pemicu timbulnya konflik dan hingga perdebatan.

4. Menikah Terlalu Muda (45,1%)

Banyak yang menyimpulkan semakin lama kamu nunggu untuk nikah bakalan semakin baik. Hal ini karena adanya hubungan umur saat menikah dan risiko perceraian hampir linier. Artinya, semakin kamu tua akan semakin rendah kemungkinan perceraian.

Gimana kalo misal kita milih menikah di umur setelah 20an? 

Gue kutip dari laman ifstudies.org, menunda pernikahan hingga umur 20 akhir bakal menghasilkan penurunan terbesar dalam risiko perceraian. Hal ini berhubungan dengan alasan kita semua bakalan lebih banyak berubah dari tahun ke tahun sebagai remaja daripada ketika kita umur dua puluhan atau tiga puluhan. Pasangan di umur tiga puluhan juga bakal lebih dewasa dan biasanya punya pondasi keuangan yang lebih kuat. 

Statement diatas di perkuat dari hasil studi dari FamilyStudies tahun 1995 pada gambar sebelah kiri. Grafik mengatakan bahwa risiko perceraian terus menurun melewati titik umur 20an akhir. 


Tetapi, pada tahun 2006-2010 menunjukkan hal yang berbeda. Pada gambar grafik sebelah kanan menunjukkan seperti apa hubungan umur saat menikah dan perceraiaan saat ini.

Sebelum umur 32 tahun atau lebih, setiap tahun, tambahan umur pernikahan mengurangi kemungkinan perceraian sebesar 11%. Namun, setelah itu kemungkinan perceraian meningkat sebesar 5% per tahun. 

Artinya, orang yang menikah di umur tiga puluhan sekarang punya risiko perceraian yang lebih besar daripada orang yang menikah di umur dua puluhan.

Kalo menurut gue, baik memutuskan menikah di umur 20an atau 30an, yang terpenting dari itu semua adalah menyoal kedewasaan. Kedewasaan sendiri nggak dilihat dari umur, tapi dari sikap dan perilaku.

Pernikahan adalah keputusan yang besar. Ini adalah komitmen yang butuh kompromi dan negosiasi. Ada beberapa orang yang nggak siap untuk itu di usia yang muda. Dan ada beberapa yang siap karena udah punya kedewasaan itu sendiri.

Pada dasarnya, kita baiknya menikah ketika udah dewasa dan stabil, dan itu bisa terjadi pada umur yang berbeda-beda buat setiap orang. Pernikahan seharusnya nggak jadi sesuatu yang dilakuin terburu-buru. Tapi lakuin saat kita ngerasa siap.

5. Masalah Keuangan (36.1%)

Masalah keuangan jadi faktor yang punya kontribusi gede. In fact, financial problem bukan jadi alasan yang paling relevan buat orang memutuskan bercerai. Masalah keuangan ini berkontribusi pada peningkatan stres dan ketegangan dalam sebuah hubungan.

Papp dkk (2009) dalam artikelnya berjudul "For Richer, for Poorer: Money as a Topic of Marital Conflict in the Home" menyatakan bahwa pasangan nggak nilai uang sebagai sumber konflik. Tapi, dibandingin sama masalah non-uang, konflik tentang keuangan lebih meresap, lebih bermasalah, bakal berulang dan tetap ada ketika belum terselesaikan pemecahannya.


Menurut gue, ada beberapa hal yang bisa di jadiin highlight terkait issue financial problem ini..

Pertama, kita harus terbuka secara keuangan dengan pasangan. Hal ini menjadi penting karena kenyataannya pembahasan keuangan adalah topik yang akan selalu ada dalam sebuah hubungan. Apa yang pernah dibahas sebelumnya akan mungkin dibahas lagi dimasa yang akan datang. Topik ini jadi bahasan jangka panjang. 

Selain itu, dengan kita terbuka secara keuangan, masing-masing pasangan akan saling paham gimana kondisi keuangannya, apa tujuan keuangannya, gimana perilaku-nya terhadap uang. 

Menurut Forbes, memiliki perilaku keuangan yang bertentangan bisa ngerugiin pasangan. Kalo satu orang punya sifat boros dan yang lain rajin menabung, ketegangan bisa aja muncul ketika mencoba memutuskan ke mana perginya gaji. 

Sangat penting untuk menemukan cara untuk menggunakan kebiasaan yang berbeda untuk saling melengkapi. 

Misalnya, pasangan yang rajin menabung bisa ambil peran dan tanggung jawab atas perencanaan pensiun, sedangkan pasangan yang boros bertanggung jawab atas pengeluaran jangka pendek.

Kedua, fakta mengatakan adanyanya kecenderungan orang berkomunikasi terkait uang dengan gaya interaksi negatif dibandingkan masalah lainnya. Dengan interaksi yang negatif akan berimplikasi pada obrolan yang negatif juga. Gue rasa, sebisa mungkin komunikasi tentang uang dibuat senyaman mungkin, sih. Bahkan ini bisa dimulai saat sebelum memutuskan untuk menikah.

Ketiga, adakalanya pasangan bakal punya ketidaksepakatan dalam hal keuangan. Ini bakalan punya implikasi ke hubungan, baik untuk jangka pendek dan panjang. So, kalo terjadi hal seperti ini, dari kedua pihak harus bisa mengkomunikasikan apa yang membuatnya nggak sepakat. Komunikasi tetep jadi kunci utama buat ngatasi problem ini.




Setelah membedah satu per satu penyebab orang mengalami kegagalan dalam pernikahan, lalu muncul pertanyaan...

Emang Sebegitu Pentingnya Kita Berkomitmen dalam Menikah?

Pada dasarnya, kita udah mulai melakukannya beberapa abad lalu. 

Tetapi nyatanya, saat kita bilang ke gagasan bahwa menikah harus berdasarkan cinta, orang jadi ketakutan.


"Gimana gue bakalan bisa nikah kalo doi ternyata ngomong: gue ga cinta sama elu"


Cowok dan cewek perlu buat nyari cinta dan nikah karena mereka bagian dari kesatuan.

Cowok punya sifat agresif dan protektif, sementara cewek bersifat mendidik dan pendiam. Mereka berlawan tapi saling ngelengkapin.

Darwin dalam karyanya "The Descent of Man and Selection in Relation to Sex" mengatakan kalo cewek keliatan berbeda dari cowok pada wataknya, terutama kelembutan dan ketidakegoisannya.

Cowok suka kompetisi, dan ini berujung pada ambisi. So, cowok pada akhirnya menjadi superior atas cewek. 

Maka secara alamiah, cowok dan cewek memang ditakdirkan untuk bersama..

Karena gue Muslim, jauh sebelum Darwin ngomongin hal ini, Al Quran yang diturunkan sekitar 14 abad lalu juga udah nyampein hal tersebut. Dalam salah satu ayat Al Quran, Allah SWT berfirman bahwa segala sesuatu diciptakan berpasang-pasangan.

"Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh Bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui." (QS Yasin: 36)

Al Quran juga menerangkan bahwa manusia diciptakan secara berpasang-pasangan. Allah SWT menciptakan manusia secara berpasang-pasangan agar dapat berkembang biak.

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir." QS Ar-Rum: 21.
 

Pernikahan adalah sesuatu yang membuat komitmen menjadi legal, 
dan itu bukan sesuatu yang nature/alami..

Kalo kita beruntung, hubungan pernikahan apa yang harus kita punya nggak akan penting lagi. Tapi ngerancang jenis hubungan pernikahan yang ingin kita miliki adalah hal yang lebih utama...


Satu hal yang menurut gue membuat menusia menarik dan unik, adalah kita mampu ngelakuin sesuatu yang nggak alami. Tapi kita bisa beradaptasi.



Source:
  • Johnson, M.P. 2006. A “general” theory of intimate partner violence: a working paper. Sociology and Women’s Studies. Penn State. [email protected], www.personal.psu.edu/mpj
  • Papp, Lauren M., Cummings, EM., & Goeke-Morey, MC. 2009. For Richer, for Poorer: Money as a Topic of Marital Conflict in the Home. Family Relations: Interdisciplinary Journal of Applied Family Studies, 58(1): 91-103.
  • Selterman, D., Garcia, J. R., & Tsapelas, I. 2019. Motivations for Extradyadic Infidelity Revisited. Journal of sex research, 56(3): 273–286.
  • https://ifstudies.org/blog/want-to-avoid-divorce-wait-to-get-married-but-not-too-long/
  • https://www.insider.com/why-people-get-divorced-2019-1

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar