Mencoba Mencari Jawaban Kebenaran Raw Milk Melalui Evidence Based Medicine

By chikitadinda - 12.08

Bulan depan, insyaAllah anakku berusia satu tahun. Semoga Allah berkahi umurnya.

Banyak ragam makanan yang sudah boleh mulai diperkenalkan di usia satu tahun, salah satunya adalah susu.  Jadi, aku mulai membaca dan mempelajari lebih lanjut menyoal ini.

Ketika aku mulai belajar membenahi pola makan diriku dan keluarga, aku diberikan Allah petunjuk salah satu ilmu yang fokusnya pada akar masalah, yaitu naturopati. Selama ini ada beberapa hal yang aku ikuti dan ada yang tidak. Sesuai dengan kebutuhan saja, aku gabungkan dengan keilmuan lainnya. Sehingga tidak menjadikan aku terlalu condong akan satu ilmu, pun condong dengan satu pakar saja.

Salah satu yang menjadi concern dalam ilmu ini adalah ketika mengkonsumsi susu, lebih baik dan lebih bernutrisi jika memilih susu raw milk. 


Disclaimer: aku tidak menyudutkan salah satu ilmu, tapi aku percaya bahwa ilmu Allah itu luas sekali. Ada kalanya ilmu A yang cocok dengan kondisi tertentu, yang lainnya tidak. Dan memang karena kondisi masing-masing manusia memang unik (bio-individuality), sehingga tidak bisa disamaratakan. Tapi dalam tulisan kali ini, aku mencoba objektif dan menulis berdasarkan evidence based. Semoga dapat diterima dan mohon maaf apabila ada salah kata dan berpikir. Wallahu a'lam bishawab


Memilih untuk mengkonsumsi raw milk tentunya ada alasan tersendiri, salah satunya untuk kesehatan optimal baik untuk diri sendiri, keluarga, maupun bocil tercinta. Yang jadi pertanyaan adalah bukankah susu itu perlu dipasteurisasi terlebih dahulu agar aman? Kok beberapa orang justru mulai beralih ke susu mentah (raw milk)? Berbahayakah jika susu tidak dipasteurisasi dulu? —Karena saat saya sekolah dulu, diajarkan bahwa metode pasteurisasi penting dilakukan karena makanan tsb rentan terjadi kontaminasi mikroba.

Tulisan blog kali ini akan cukup panjang karena aku pengen ngasih informasi terbaik yang aku mampu agar kita bisa sama-sama membuat informed decision, meskipun aku tidak memiliki latar belakang pendidikan kesehatan sebelumnya.


Raw milk diyakini memiliki beberapa khasiat, diantaranya: memiliki kandungan yang sempurna, lebih bergizi dibandingkan susu pasteurisasi karena proses pemanasan pada pasteurisasi akan merusak kandungan vitamin alami, bakteri baik, dan enzym di dalam susu itu sendiri. Para proponen raw milk juga mengklaim bahwa susu mentah berkhasiat meremineralisasi gigi, menyembuhkan karies, dan mencegah aneka macam penyakit seperti alergi, kanker, dan lactose intolerance. Namun, informasi-informasi menyoal susu mentah ini sebenarnya masih penuh dengan perdebatan (conflicting information) dan bias.

Untuk itu saya membuat tulisan ini, meski dengan minimnya pengetahuan saya; mencoba menggunakan metode berbasis bukti-bukti ilmiah atau evidence based medicine (EBM), untuk membuat suatu keputusan kesehatan. Karena bagaimanapun juga, EBM ini didesain untuk membantu kita melihat fenomena kesehatan dengan seobjektif mungkin. Bukan mengandalkan testimoni, review, story telling, atau opini yang tentu sangat banyak biasnya.

Dalam bahasan kali ini, jika menggunakan EBM kita bisa memunculkan pertanyaan-pertanyaan berikut:

  • Apakah benar khasiat raw milk yang digaungkan oleh para proponen adalah satu hal yang disandarkan pada bukti ilmiah yang kuat? Bagaimana datanya?
  • Adakah data yang menunjukkan perbandingan status kesehatan atau angka kejadian penyakit yang berkaitan dengan raw milk dibandingkan pasteurised milk?
  • Adakah data yang menunjukkan perbandingan risiko antara kedua jenis susu tersebut?
  • Jika benar pasteurisasi merusak kandungan susu, adakah data yang membandingkan kandungan susu sebelum dan sesudah pasteurisasi?
  • Lalu bagaimana metode yang digunakan dalam mengumpulkan dan menganalisis data tersebut?

Pertanyaan-pertanyaan diatas ternyata sudah ada jawabannya berdasarkan EBM. Hal ini sangat membantu dalam mengambil keputusan dengan lebih bijak. Coba aku jabarkan poin-per-poin yaa..


Definisi Susu Mentah (raw milk) dan Susu Pasteurisasi (pasteurised milk)

Raw milk atau susu mentah adalah susu yang diperoleh langsung dari hewan (seperti sapi, kambing, atau domba) tanpa melalui proses pasteurisasi atau proses pengolahan seperti pemanasan, homogenisasi, atau pengawetan. Produk susu yang belum diproses untuk menghilangkan bakteri atau mikroorganisme, sehingga dianggap lebih alami namun berpotensi mengandung patogen seperti E. coli, Salmonella, atau Listeria.

Sedangkan pasteurisasi adalah proses pemanasan makanan atau minuman pada suhu dan kurun waktu tertentu, terutama produk susu, pada suhu tertentu dalam jangka waktu tertentu untuk membunuh mikroorganisme patogen seperti bakteri, virus, ragi, dan jamur tanpa merusak kualitas gizi atau rasa produk secara signifikan.

Pasteurisasi susu merupakan salah satu teknik pengolahan pangan modern yang sudah menjadi standar di dunia untuk menjaga kesehatan masyarakat karena susu yang tidak diolah dengan benar bisa menjadi sumber penyakit yang berbahaya. Pasteurisasi membantu mencegah penyakit yang ditularkan melalui makanan, seperti tuberkulosis, brucellosis, dan listeriosis.

 

"Semakin tinggi proses suatu makanan, semakin tidak sehat makanan tersebut untuk dikonsumsi."

Apakah proses pasteurisasi termasuk dalam definisi tinggi proses tersebut?

Pasteurisasi termasuk proses minimal yang bertujuan untuk meningkatkan keamanan tanpa merusak nilai gizi secara signifikan. Ini berbeda dengan proses tinggi seperti pengolahan ultraprocesed food (makanan ultra-proses) yang sering kali melibatkan penambahan gula, garam, lemak, dan zat aditif. Hal ini dapat membawa dampak buruk bagi kesehatan (tambahan bacaan —menggunakan studi cohort: https://www.bmj.com/content/365/bmj.l1949 | https://www.bmj.com/content/365/bmj.l1451).

Pasteurisasi tidak otomatis termasuk kategori proses yang membuat makanan "tidak sehat." Pasteurisasi itu sendiri termasuk kedalam pemrosesan makanan yang dilakukan untuk menjamin keamanan pangan manusia tanpa merusak kandungan nutrisinya, kayak kita memasak beras, jagung, biji-bijian biar bisa mudah dicerna, bernutrisi, dan tidak berbahaya. Pilihannya kembali pada keseimbangan antara risiko dan manfaat—untuk sebagian besar orang, mengonsumsi susu pasteurisasi adalah pilihan lebih aman dibandingkan susu mentah.


Potensi Bahaya Jika Susu Tidak di Pasteurisasi

Susu yang tidak dipasteurisasi (susu mentah —raw milk) memiliki potensi membawa berbagai bahaya kesehatan karena adanya mikroorganisme patogen yang mungkin terkandung di dalamnya sehingga berpotensi mengandung patogen seperti E. coli, Salmonella, atau Listeria. Teknik pasteurisasi ditemukan oleh Louis Pasteur, seorang kimiawan dan ahli mikro-biologi kelahiran Perancis, di saat jutaan orang sakit dan mati akibat penyakit tuberculosis (TB), scarlet fever, typhoid fever, dan berbagai macam penyakit yang ditransmisikan melalui susu mentah. 

Selain bakteri, susu mentah juga bisa membawa parasit seperti Cryptosporidium dan virus seperti norovirus, yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan.

Susu mentah juga lebih rentan terhadap kontaminasi dari lingkungan selama proses pemerahan, seperti kotoran hewan, debu, atau air yang tidak bersih.

Orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah (anak-anak, ibu hamil, lansia, dan pasien dengan kondisi medis tertentu) lebih berisiko mengalami komplikasi serius jika terinfeksi patogen dari susu mentah.

Meskipun beberapa orang mengklaim bahwa susu mentah memiliki rasa lebih alami atau kandungan gizi tertentu yang lebih baik, risikonya terhadap kesehatan cukup tinggi tanpa pasteurisasi. Oleh karena itu, banyak otoritas kesehatan seperti WHO, FDA (Food and Drug Administration), dan CDC merekomendasikan konsumsi susu pasteurisasi untuk mencegah penyakit yang dapat ditularkan melalui susu mentah. Mereka menganggap bahwa pasteurisasi adalah salah satu intervensi keamanan makanan paling efektif yang pernah ada.


Tapi... Pasteurisasi Udah Ketinggalan Jaman!
Penemuannya 100 tahun yang lalu. Sekarang sudah ada teknologi bernama kulkas dan freezer yang bisa menurunkan risiko kontaminasi?!


Mulai tahun 2007 hingga 2012, 26 negara bagian US melaporkan terjadi 81 wabah yang berkaitan dengan raw milk. Wabah ini menyebabkan 979 kasus penyakit dan 73 kasus di rawat di rumah sakit. Dapat kita lihat pula bahwa dari tahun 2007 sampai 2009 saja, ada 30 wabah. Dan hanya dalam waktu 2 tahun (2010–2012) terjadi peningkatan 51 wabah. Terdapat 2 bakteri yang menyebabkan hampir seluruh wabah dari tahun 2007 hingga 2012, yaitu:

  • campylobacter (penyebab 81% wabah). Jumlah infeksi bakteri ini dari susu mentah meningkat 2 kali lipat dalam 6 tahun.
  • Shiga toxin-producing E.coli menyebabkan 17% wabah.
  • Salmonella menyebabkan 3% wabah.

Jumlah rata-rata outbreak yang berkaitan dengan raw milk setiap tahun meningkat 4 kali lipat di periode 2007–2012 dibandingkan periode 1993–2006.

Pada umumnya, jual-beli raw milk di negara maju itu ilegal, contoh di negara tetangga Singapura. Raw milk tidak boleh diperjualbelikan untuk konsumsi manusia. Kebijakan ini diberlakukan oleh Singapore Food Agency (SFA) untuk melindungi kesehatan masyarakat. Regulasi di Singapura menerapkan penjualan susu mentah untuk konsumsi manusia dianggap melanggar undang-undang pangan dan dapat dikenai sanksi hukum. Susu mentah mungkin tersedia untuk keperluan non-konsumsi, seperti penelitian atau pakan hewan, tetapi harus melalui izin khusus dari otoritas terkait.

Singapura mengikuti tren banyak negara maju lainnya, seperti Kanada dan Australia, yang juga melarang atau sangat membatasi penjualan raw milk. 

Di beberapa negara (misalnya Amerika Serikat dan Eropa), aturan lebih bervariasi, dan raw milk dapat dijual dengan persyaratan tertentu. 

Ada beberapa negara bagian yang melegalkan jual beli raw milk. Dan ternyata, 81% wabah yang dilaporkan di US terjadi di negara-negara bagian yang melegalkan penjualan raw milk. Lebih mengejutkannya lagi, jumlah negara yang melegalkan penjualan raw milk dan jumlah transaksi raw milk meningkat sejak tahun 2004.

Yang menjadi masalah pula, meskipun penjualan raw milk ilegal di sebuah negara bagian (seperti Maryland, New Jersey), orang-orang masih bisa membeli raw milk dari sebuah club di mana raw milk dilegalkan di negara lain (seperti Pennsylvania). 

Ilustrasi mudahnya, ketika di Singapura jual beli raw milk ilegal, tetapi di Indonesia atau Malaysia tidak. Orang-orang di Singapura melakukan transaksi raw milk dengan orang Indonesia kemudian susunya dikirim dari Indonesia ke Singapura dan menyebabkan wabah di Singapura (hanya sebuah ilustrasi).


Apakah risiko wabah hanya ada pada rawmilk saja? Apakah susu yang dipasteurisasi pasti tidak akan menyebabkan wabah? Dan bagaimana perbandingannya?

Untuk menjawab pertanyaan ini, aku ambil dari artikel lainnya..

Dari studi ini, kita bisa melihat bahwa konsumen raw milk di US itu tidak lebih dari 1% dari total konsumen susu, tetapi jumlah wabah yang dilaporkan yang berkaitan dengan raw milk lebih banyak dibanding susu pasteurisasi. Risiko wabah yang berkaitan dengan raw milk adalah 150 kali lipat lebih tinggi dibandingkan risiko wabah yang berkaitan dengan susu pasteurisasi.

Wabah yang disebabkan oleh raw milk cenderung menyebabkan penyakit yang lebih parah. Angka hospitalization rate —yang masuk rumah sakit akibat wabah yang berkaitan dengan raw milk, 13 kali lebih tinggi [raw milk : pasteurised milk = 13% : 1%]. Perbedaan ini terjadi karena wabah dari susu mentah ini disebabkan (semuanya) oleh infeksi bakteri seperti E.coli O157:H7, yang bisa menyebabkan gagal jantung dan kematian. Sementara wabah pada susu pasteurisasi biasanya disebabkan oleh infeksi virus dan toxin.

Dengan data tersebut, tentunya raw milk bisa dikatakan belum aman untuk dikonsumsi terutama anak-anak. Anak-anak merupakan golongan paling berisiko, karena:

Pada riset pertama:

  • 59% wabah melibatkan setidaknya 1 anak yang usianya lebih muda dari 5 tahun.
  • wabah yang berkaitan dengan raw milk sendiri, anak-anak usia 1 hingga 4 tahun menyumbang 38% angka penyakit yang disebabkan oleh salmonella dan 28% oleh Shiga toxin-producing E coli

Pada riset kedua:

  • Sejak tahun 1993 hingga 2006, 60% orang yang sakit akibat wabah yang berkaitan dengan raw milk adalah mereka yang di bawah usia 20 tahun.
  • inilah yang menjadi alasan American Academy of Pediatric dan aneka organisasi profesional lainnya menyarankan untuk tidak memberikan raw milk kepada anak-anak.

Dari semua data dan penelitian yang ada, jelas terlihat bahwa raw milk atau susu mentah itu terus menjadi ancaman kesehatan masyarakat hingga saat ini. Sehingga, CDC sangat menganjurkan untuk (hanya) mengkonsumsi susu dan produk turunannya yang sudah dipasteurisasi.

Cek lebih jauh menyoal mitos-mitos raw milk pada laman berikut: https://www.fda.gov/food/buy-store-serve-safe-food/dangers-raw-milk-unpasteurized-milk-can-pose-serious-health-risk?source=post_page-----9c0723eed054--------------------------------

Sebagai tambahan ada satu penelitian Sistematik Review dan Metaalisis yang membahas tentang efek pasteurisasi pada vitamin dan bukti ilmiah terkait konsumsi raw milk dengan klaim dampak kesehatannya yang sangat menarik untuk disimak. Sebagai informasi, sistematik review dan metaanalisis merupakan metode penelitian yang memberikan bukti terkuat dalam dunia EBM. Penelitian ini menyaring ribuan artikel ilmiah dengan topik terkait. Di studi ini dijelaskan bahwa dampak nutrisi dari proses pasteurisasi susu itu tidak signifikan. Artinya, nutrisi di susu hasil pasteurisasi dan susu mentah itu tidak memiliki banyak perbedaan. Memang benar, ada nutrisi yang rusak seperti vitamin C, akan tetapi tidak signifikan karena kandungan vitamin C pada susu sangat rendah, dan susu bukanlah sumber vitamin C yang baik. Begitu pula pada vitamin yang lain seperti B12 dan vitamin E. Meskipun terjadi sedikit penurunan, vitamin-vitamin tersebut bisa didapat dengan mudah dari sumber makanan lainnya, seperti: sayur, buah, dan lainnya. Sehingga anggapan bahwa semua kandungan nutrisi dalam susu pasteurisasi hilang adalah tidak tepat. Faktanya, sebagian besar zat gizi tetap tersedia dalam susu pasteurisasi. Selain lebih aman diminum, susu pasteurisasi tetap mengandung kalsium, protein, vitamin, dan zat gizi lainnya yang bermanfaat bagi tubuh. Penelitian ini juga membantah beberapa klaim proponen raw milk tentang manfaatnya dalam mencegah kanker dan lactose intolerance dan juga menjelaskan kelemahan bukti aneka manfaat raw milk tersebut. Lebih lengkapnya, kalian bisa membaca sendiri jurnal ilmiah tersebut. 


-

Aku berharap dari beberapa data dan artikel yang telah kujabarkan diatas, bisa dijadikan dasar dalam kalian mengambil keputusan. Aku tidak akan menginfluence/menggiring, tapi hanya memaparkan saja bukti-bukti secara ilmiah. Karena pengambilan keputusan tetap di tangan kalian.

Terakhir, tulisan ini aku buat tidak sama sekali untuk menghakimi pihak manapun. Ini hanya untuk keperluan edukasi bagi para pembaca yang mungkin kesulitan memahami artikel kesehatan CDC yang berbahasa inggris. Apapun keputusan yang akan kalian ambil, itu kembali kepada individu masing-masing. 


Semoga bermanfaat,
dan dapat diterima dan mohon maaf apabila ada salah kata dan berpikir.
Wallahu a'lam bishawab

  • Share:

You Might Also Like

0 comments